MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK SMA NEGERI 1 TOMPASO KELAS X MELALUI PENGGUNAAN MEDIA MULTIMEDIA PADA MATA PELAJARAN PAK DAN BUDI PEKERTI MATERI BERTUMBUH DAN SEMAKIN BERHIKMAT
DISUSUN OLEH: HESKY POLANDOS, S.TH, GURU SMA NEGERI 1 TOMPASO
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan karakter peserta didik diera abad-21 sekarang ini sangatlah dipengaruhi oleh kemodernisasian yang begitu luar biasa. Dampak yang disebabkan oleh kemajuan teknologi bisa mengakibatkan pada kerusakan karakter peserta didik sebaliknya jika ditanggapi dengan benar maka akan menghasilkan karakter yang baik pula. Peran seorang guru untuk memfasilitasi peserta didik untuk dapat beradaptasi dengan kemajuan IPTEK supaya dapat memiliki karakter sebagaimana citra seorang peserta didik.
Peran seorang guru dalam mewujudkan cita-cita dari peserta didik, adalah ketika saat dalam pembelajaran. Sehebat apapun kemajuan teknologi peran guru akan tetap digunakan. Menurut Wina Sanjaya “Bagaimanapun hebatnya kemajuan teknologi, peran guru akan tetap diperlukan. Teknologi yang konon bisa memudahkan manusia mencari dan mendapatkan informasi dan pengetahuan, tidak mungkin dapat mengganti peran guru.1
Seorang guru harus dapat memperlengkapi diri dalam arti mengusai pengetahuan dan teknologi apalagi saat sekarang ini, beribadah dari rumah,
belajar dari rumah, bekerja dari rumah yang mengharus semua dari rumah dikarenakan pandemic covid 19.
Sekalipun dalam masa covid 19 sekarang ini, sebagai seorang guru harus tahu bahwa
pendidikan memiliki tujuan untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi di dalam diri para peserta didik. Peserta didik adalah komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar, peserta didik sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal.
Menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Pikiran diatas menunjukan bahwa peserta didik merupakan sumber utama dan terpenting dalam proses pendidikan formal dan informal. Peserta didik untuk dapat
menggapai cita-citanya atau untuk menjadi berpengetahuan memerlukan pembinaan dan pengembangan secara individual dan kelompok, serta mengharapkan perlakukan manusiawi dari orang dewasa termasuk gurunya, guru memiliki peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan khususnya dalam mencerdaskan anak bangsa.
Media pembelajaran adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala
sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan atau keterampilan pembelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Media pembelajaran merupakan sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, dan sebagainya. Jadi, dapat dijelaskan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
Media pembelajaran menempati posisi yang sangat penting sebagai salah satu komponen system pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung
secara optimal. Ada beberapa jenis media pembelajaran diantaranya; Media Visual (Grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik), Media Audio (radio, tape recorder,
laboratorium bahasa), Media Audio Visual ( Pesan visual yang terdengar dan terlihat itu dapat disajikan melalui program audio visual seperti film dokumenter, film docudokumenter, film drama, dan lain-lain. Semua program tersebut dapat disalurkan melalui peralatan seperti film, video, dan juga televisi dan dapat disambungkan pada alat proyeksi (projectable aids)dan Terakhir, multimedia yakni media yang melibatkan berbagai indera dalam sebuah proses pembelajaran. Termasuk dalam media ini adalah segala sesuatu yang memberikan pengalaman secara langsung bisa melalui komputer dan internet, bisa juga melalui
pengalaman berbuat dan pengalaman terlibat. Termasuk dalam pengalaman
berbuat adalah lingkungan nyata dan karyawisata; sedangkan termasuk dalam pengalaman terlibat adalah permainan dan simulasi, bermain peran dan forum teater
Artinya media pembelajaran sangatlah penting dalam menentukan hasil
belajar selain model, bahan ajar dan lainnya. Keberhasilan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar tergantung pada isi pesan, cara menjelaskan pesan, dan karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media perlu diperhatikan ketiga factor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran tentunya akan memberikan hasil belajar yang maksimal.
Hasil belajar siswa merupakan hal yang penting karena melalui hasil belajar guru dapat mengukur apakah materi yang disampaikan dalam proses pembelajaran sudah dipahami oleh siswa secara keseluruhan atau tidak sekalipun dalam masa pademi covid 19. Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 1 Tompaso ditemukan bahwa hasil belajar siswa rendah. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar siswa belum memahami materi yang disampaikan guru oleh karena keterbatasan media yang digunakan saat belajar dari rumah. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka proses pembelajaran dimasa pandemic covid 19 ini, harus dikemas dengan strategi yang sesuai bagi peserta didik dan disesuaikan dengan konten yang diajarkan. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menghubungkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan sekarang ini.
Dalam penelitian ini difokuskan pada penggunaan media pembelajaran sebagai solusi bagi masalah hasil belajar peserta didik. Sehubungan dengan masalah hasil belajar siswa di atas, maka dalam proses kegiatan belajar dibutuhkan media pembelajaran yang tepat. Media berbasis Multimedia menggunakan computer dan internet mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menarik minat belajar peserta didik. Dalam proses belajar mengajar menggunakan media multimedia (komputr dan internet) menarik atensi siswa untuk bersungguh-sungguh mengikuti setiap prosesnya, sehingga mereka dapat dengan mudah menyerap dan memahami materi pelajaran yang diberikan. Keseriusan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran melalui media multimedia menyebabkan guru secara langsung berkomunikasi menyampaikan materi ajar serta meningkatnya hasil belajar siswa. Penggunaan media multimedia (computer dan internet). Sehingga komunikasi itu tidak terpisahkan dari media, saling berkaitan erat. Oleh sebab itu, untuk memperlancar komunikasi, si pemberi pesan (Komunikator) sebaiknya menggunakan media yang sesuai dengan tingkat perkembangan, situasi (konteks), dan pemikiran penerima pesan.2
Paparan diatas membuat peneliti ingin memperbaiki tindakan mengajar
soal Meningkat Hasil Belajar Peserta Didik SMA Negeri 1 Tompaso Melalui Penggunaan Media Multimedia (computer dan internet) Pada Mata Pelajaran PAK dan Budi Pekerti Materi Bertumbuh dan Semakin Berhikmat.
B. Identifikasi Masalah
Masalah yang ditemukan dalam observasi di SMA Negeri 1 Tompaso, Kecamatan
Tompaso, Kabupaten Minahasa dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Rendahnya hasil belajar siswa yang disebabkan penyampaian materi ajar yang tidak menarik dalam kegiatan pembelajaran.
2. Penggunaan media pembelajaran yang kurang menarik berakibat materi ajar tidak dapat diserap dan dimengerti dengan baik oleh peserta didik dimasa pandemic Covid-19.
C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini dapat dilakukan lebih fokus dan mendalam, maka perlu dilakukan pembatan masalah yang akan diteliti. Oleh karena itu penelitian ini berfokus pada meningkatkan hasil belajar pendidikan agama Kristen siswa kelas X SMA Negeri 1 Tompaso melalui penggunaan multimedia.
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam PTK ini adalah sebagai berikut:
Apakah dengan mengunakan media multimedia pada mata pelajaran PAK dan Budi pekerti materi ‘Bertumbuh dan Semakin Berhikmat’dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui Apakah dengan mengunakan media multimedia pada mata pelajaran PAK dAn Budi pekerti materi ‘Bertumbuh dan Semakin Berhikmat’dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Praktis
Meningkatkan minat belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti yang berakibat pada meningkatkan hasil belajar siswa. Selanjutnya menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan bagi peserta didik.
2. Manfaat Akademis
Dapat dijadikan masukan teori dalam bidang ilmu Pendidikan Agama Kristen, khususnya berkenaan dengan meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti (PAK&BP) melalui penggunaan media multimedia (computer dan internet).
G. Hipotesis
Hipotesis adalah kesimpulan sementara yang kebenarannya masih perlu dibuktikan melalui hasil penelitian. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah bahwa penggunaan media Multimedia dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Tompaso.
KAJIAN TEORI
A. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajarpun dapat diartikan sebagai suatu perubahan perilaku dan kemampuan secara keseluruhan yang dimiliki oleh siswa setelah belajar, yang wujudnya berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang disebabkan oleh pengalaman. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Hasil belajar digunakan untuk mengetahui sebatas mana siswa dapat memahami serta mengerti tersebut.
Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa hasil belajar yang akan dicapai mengacu pada hasil belajar yang diklasifikasikan oleh Benjamin S. Bloom. Bloom membagi klasifikasi menjadi tiga ranah, yaitu: Pertama, Ranah kognitif, merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi akibat pengetahuan yang dimilikinya. Kedua, Ranah afektif, hasil belajar dibagi menjadi lima tingkatan yang berhubungan dengan sikap peserta didik selama proses pembelajaran, yaitu: (a) Penerimaan, yaitu kesediaan menerima rangsangan yang diterimanya; (b) Partisipasi, yaitu kesediaan memberikan respon dengan berpartisipasi dalam kegiatan untuk menerima rangsangan; (c) Penilaian, yaitu kesediaan untuk menentukan pilihan sebuah nilai dari rangsangan tersebut; (d) Organisasi, yaitu kesediaan mengorganisasikan untuk menjadi pedoman yang mantap dalam perilaku; (e) Internalisasi, yaitu menjadikan nilai-nilai yang diorganisasikan untuk menjadi bagian dalam perilaku sehari-hari. Ketiga, Ranah Psikomotorik, hasil belajar pada ranah ini berhubungan dengan keterampilan motorik, manipulasi benda atau kegiatan yang memerlukan koordinasi saraf dan koordinasi badan.
Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Dengan demikian tugas utama guru dalam kegitan ini adalah merancang instrumen yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan tugas seorang desainer dalam menentukan hasil
belajar selain menentukan kriteria keberhasilan juga merancang cara menggunakan instrumen beserta kriteria keberhasilannya. Hal ini perlu dilakukan, sebab dengan kriteria yang jelas
dapat menentukan apa yang harus dilakukan siswa dalam mempelajari isi atau bahan pelajaran.[1]
menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar.[2]
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar akan mencerminkan kemampuan siswa dalam mencapai suatu kompetensi dasar. Hasil belajar berfungsi sebagai petunjuk tentang perubahan perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang telah dilakukan, sesuai dengan kompetensi dasar dan materi yang dikaji. Hasil belajar siswa dapat diketahui karena adanya penilaian yang dilakukan guru.
Selanjutnya Sudjana mengemukakan hasil belajar yang dicapai peserta didik merupakan hasil interaksi antara beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu sebagai berikut:
1. Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal terdiri atas tiga faktor, yaitu: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.
2. Faktor Intelengensi
Seseorang memiliki intelegensi yang baik umumnya mudah belajar dan hasilnya cenderung baik. Sebaliknya orang yang memiliki intelegensi rendah cenderung mengalami kesulitan dalam belajar, lambar berpikir, sehingga prestasi belajarnya pun rendah.
3. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap proses belajar dapat dikelompokan menjadi dua faktor, yaitu:
- Lingkungan Sosial
1) Lingkungan sosial masyarakat
Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar. Apabila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakatnya terdiri dari orang-orang yang bependidikan, terutama anak-anaknya rata-rata berpendidikan tinggi dan bermoral baik, maka hal ini akan mendorong anak untuk lebih giat belajar.
2) Lingkungan sosial keluarga
Keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak serta kerabat yang menjadi penghuni rumah. Faktor orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan anak dalam belajar.
3) Lingkungan sosial sekolah
Faktor lingkungan sekolah yang mempengaruhi proses belajar adalah mencakup kurikulum, metode mengajar, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah.
- Lingkungan Non Sosial
Lingkungan non sosial yang dimaksud di sini adalah lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas, tidak dingin, cahaya yang tidak terlalu silau, atau tidak terlalu gelap, suasan yang sejuk dan tenang.
4. Faktor Instrumental
Faktor instrumental berupa perangkat belajar dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu: Pertama, hardware (perangkat keras). Contohnya gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olahraga, dan lain sebagainya. Kedua, software (perangkat lunak). Contohnya kurikulum, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan dan lainnya.[3]
Karakter Peserta Didik (usia 15-17 tahun)
Karakter adalah nilai-nilai unik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Secara harfiah, karakter artinya kualitas mental atau moral, nama atau reputasi. Dalam kamus Psikologi, karakter adalah kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang yang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat tetapKarakter adalah nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter bertujuan membentuk dan membangun pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik agar menjadi pribadi yang positif, berakhlak, berjiwa luhur dan bertanggung jawab. Berikut beberapa pendapat para ahli tentang karakter:
1. Menurut Scerenko, karakter adalah ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis dan kompleksitas
2. Menurut Winnie bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian. Pertama, ia menunjukkan bagaimana perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memenifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan personality. Seseorang baru bisa disebut orang yang berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai denngan kaidah moral seseorang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikannya.
Pengertian yang sudah dijelaskan diatas, dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan nilai-nilai universal perilaku manusia yang meliputi seluruh aktivitas kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesame manusia maupun dengan lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat.
Karakteristik Masa Remaja (Usia 15-17)
Masa remaja merupakan suatu periode penting dari rentang kehidupan, masa perubahan, masa usia bermasalah, masa dimana individu mencari identitas diri bahkan dapat dikatakan masa yang penuh emosi dan adakalanya emosinya meledak-ledak, yang muncul karena adanya pertentangan nilai-nilai. Emosi yang meledak-ledak ini adakalanya menyulitkan, baik bagi si remaja maupun bagi orangtua/orang dewasa disekitarnya. Namun emosi yang meledak-ledak ini juga bermanfaat bagi remaja dalam upaya menentukan tindakan apa yang kelak akan dilakukannya.
Menurut Havighurst, tugas perkembangan remaja meliputi 1. Mencapai pola hubungan yang baru yang lebih matang dengan teman sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan etika moral yang berlaku dimasyarakat.
2. Mencapai peranan social sesuai denga jenis kelamin, selaras dengan tuntutan social dengan kultural masyarakat.
3. Menerima kesatuan organ-organ tubuh/keadaan fisiknya sebagai pria/wanita dan menggunakannya secara efektif sesuai dengan kodratnya masing-masing.
4. Menerima dan mencapai tingkah laku social tertentu yang bertanggung jawab ditengah-tengah masyarakat.
5. Mencapai kebebasan emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya dan muylai menjadi diri sendiri.
6. Mempersiapkan diri untuk mencapai karir tertentu dalam bidang kehidupan ekonomi.
7. Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan dan kehidupan berkeluarga.
8. Memperoleh seperangkat nilai dan system etika sebagai pedoman bertingkahlaku dan mengembangkan ideology untuk keperluan kehidupan kewarganegaraanya.
Perkembangan Kognitif dan Bahasa
Pada masa remaja perkembangan kognitif sudah mencapai tahap puncak yaitu tahap operasi formal, suatu kapasitas untuk berpikir abstrak, dimana penalaran remaja lebih mirip dengan cara ilmuwan mencari pemecahan dalam laboratorium. Piaget mengemukakan beberapa ciri dari perkembangan kognitif pada masa ini sebagai berikut:
• Mampu menalar secara abstrak dalam situasi yang menawarkan beberapa kesempatan untuk melakukan penalaran deduktif hipotesis dan berpikir proposional.
• Memahami kebutuhan logis dari pemikiran proposional, memperbolehkan penalaran tentang premis (alasan) yang kontradiktif dengan realita.
• Memperlihatkan distorsi kognitif yaitu pendengar imajiner/khayal dan dongeng pribadi (personal fable) yang secara bertahap akan menurun dan menghilang di usia dewasa.
Perkembangan Emosional
Pada masa remaja mereka cenderung egosentris dan sering berpikir lebih tinggi daripada kenyataannya. Rasa takut, marah dan kasih biasanya diperlihatkan secara emosional. Mereka melangkah lebih jauh sehingga menyebabkan kesalahpahaman, kebingungan, dan frustasi. Namun, emosi yang tinggi membutuhkan penerimaan dan pengawasan. Oleh sebab itu, sebagai guru harus dapat menilai emosi sesuai dengan tingkatan umur mereka, dapat dengan membicarakan nilai yang berkaitan seks, cinta, dan jawaban emosi orang lain serta menyediakan waktu untuk bergaul dan memahami emosinya.
Perkembangan Sosial
Perkembangan social dan emosional berkaitan sangat erat. Baik pengaturan emosi maupun ekspresi emosi diperlukan bagi keberhasilan hubungan interpersonal. Pada masa remaja, krisis yang terjadi disebut sebagai krisis antara identitas melawan kekaburan identitas. Krisis menunjukan perjuangan untuk memperoleh keseimbangan antara mengembangkan identitas individu yang unik dengan kekaburan peran tentang siapa saya, apa yang akan dan harus saya lakukan, dan bagaimana caranya. Jika remaja berhasil mengatasi krisis dan memahami identitas dirinya, maka ia akan dengan mudah membagi dirinya dengan orang lain dan mampu menyesuaikan diri.
B. Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti
Pendidikan Agama Kristen (PAK) atau Pendidikan Kristiani atau juga sering disebut Pendidikan Kristen, umumnya dipandang sebagai mata pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan nasional yang diajarkan di sekolah secara formal, namun sebenarnya PAK justru dimulai dari keluarga dan gereja. Hal tersebut dijelaskan oleh Marpaung bahwa pendidikan Kristen sering menggunakan istilah PAK merupakan salah satu bidang ilmu yang dipelajari di sekolah yang memberi kesan bahwa pendidikan merupakan tugas dari sekolah, bukan gereja. Namun sebenarnya pendidikan Kristen dimulai dari keluarga dalam lingkup kecil dan gereja untuk lingkup yang lebih besar. PAK merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan maksud Allah kepada dunia.
Harianto mengemukakan bahwa PAK adalah usaha sadar dan terencana untuk meletakkan dasar pertumbuhan iman dalam Yesus Kristus dengan cara mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran kondusif agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, yaitu melandaskan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya dan masyarakat. Jadi, dapat disimpulkan Pendidikan Agama Kristen sesungguhnya sudah memiliki tempat yang penting dalam dinamika perkembangan komunitas Kristen.
Tujuan Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan Agama Kristen memiliki suatu tujuan yang jelas dan nyata yaitu untuk menjalankan misi Tuhan Yesus di muka bumi yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus dan semua manusia mengalami hidupnya sebagai respon terhadap Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus, serta menumbuhkan dan mengembangkan iman serta kemampuan peserta didik untuk dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), PAK bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi/kemampuan anak didik, baik anak-anak maupun dewasa, kepada ketaatan dan pengabdian kepada Allah dan Firman-Nya sesuai dengan ajaran agama Kristen yang berdasar Alkitab. Ketaatan dan pengabdian dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam keluarga, sekolah, tempat bekerja, gereja, jemaat maupun di dalam masyarakat pada umumnya. Sedangkan bagi Luther tujuan PAK adalah untuk melibatkan semua warga gereja, khususnya yang muda, dalam rangka belajar teratur dan tertib agar semakin sadar akan dosa mereka serta bergembira dalam Firman Yesus Kristus yang memerdekakan mereka disamping memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya pengalaman berdoa, Firman tertulis, Alkitab dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan negara, serta mengambil bagian secara bertanggungjawab dalam persekutuan Kristen yaitu Gereja.
Tujuan PAK menurut Brown adalah berhubungan dengan tujuan hidup orang Kristen bagi Tuhan dalam kemuliaan-Nya, sebagai sarana yang digunakan oleh Roh Kudus untuk membawa murid kepada persekutuan dengan Allah, bagi hidup dalam kekekalan, untuk pengembangan pemikiran dalam perspektif Kristen dan untuk melatih mereka dalam kehidupan yang taat sehingga mereka dapat memenuhi tujuan Tuhan bagi keseluruhanhidup. Dengan adanya dasar dan tujuan pembelajaran PAK dengan jelas anak didik akan mengalami perubahan signifikan dalam pertumbuhan spritualnya.
Fondasi Pendidikan Agama Kristen
PAK dalam Perjanjian Lama
PAK berpangkal pada persekutuan umat Tuhan dalam Perjanjian Lama (PL). PAK dimulai dari masing-masing rumah tangga, dan diteruskan dalam kebaktian-kebaktian umum. Tuhan Allah sendiri merupakan pusat dan tujuan segala pendidikan masyarakat bangsa Israel. Pendidikan agama Yahudi merupakan dasar dan latar bagi PAK. Pazmino menjelaskan bahwa salah satu fondasi PAK dalam PL adalah mandat pendidikan dalam Ulangan 6:4-9 yang berisi tentang kewajiban untuk menyampaikan perintah-perintah Allah kepada generasi selanjutnya, yang tujuannya adalah menanamkan kasih kepada Allah yang diekspresikan melalui kesetiaan dan ketaatan.
Selanjutnya, untuk menjelaskan dasar PAK dalam PL, Hayes menyatakan pentingnya pendidikan dalam PL dapat dilihat dalam berbagai kata yang digunakan untuk menggambarkan komunikasi pekerjaan Allah dan kata-kata umat manusia. Kata bahasa Ibrani yang digunakan berhubungan dengan konsep pendidikan, yaitu hanak berarti mendidik (educate) atau melatih (train), dan kata yang paling umum diterjemahkan “mengajar” (teach) dalam PL adalah lamath yang berarti merangsang (stimulate) dan melatih (exercise). Namun kata Ibrani yang paling kaya makna soal pengajaran atau pendidikan adalah Torah (Taurat/hukum).
Hukum Tuhan dipandang sebagai inti dari pengajaran oleh Roh Allah, sebagai hakekat pengajaran, sebuah cahaya dan panduan hidup. Pendidikan Kristen berakar dari warisan Ibrani. Pendidikan menjadi bagian utama dan terpenting dalam budaya Yahudi. Semua budaya diarahkan untuk menjadi tempat mendidik generasi muda yang kelak memberi pengaruh besar, dan Taurat menjadi objek utama dalam pendidikan PAK dalam Perjanjian Baru
Sejak zaman Perjanjian Baru (PB) jemaat Kristen sangat mementingkan pendidikan agama. Tugas mengajar diserahkan kepada kaum guru yang mempunyai karunia dan latihan khusus untuk pekerjaan tersebut dan seluruh jemaat tetap mendukung dan mendoakan mereka. PAK dalam PB menyiapkan orang untuk masuk dalam persekutuan jemaat Kristus, dan setelah disambut dalam jemaat, mereka dididik terus supaya semakin berakar dalam pengetahuan dan pengenalan yang mendalam tentang Yesus Kristus, kepala Gereja.
Harianto mengemukakan pendidikan agama dalam PB tidak terlepas dari pendidikan agama dalam PL. Tema pokok pengajaran agama dalam PL dan PB adalah karya penyelamatan Allah bagi manusia. Dalam PB, hal ini dinyatakan dalam pribadi Yesus Kristus, Juruselamat. Dalam PB, Tuhan Yesus menjadi materi utama pendidikan, termasuk dalam hal belajar-mengajar. Pendidikan Agama Kristen dalam Perjanjian Baru pengajarannya menitik beratkan pada pengenalan atau pengetahuan akan Yesus sebagai Juru Selamat.
C. Media Multimedia
Kata media berasal dari Bahasa Latin medius dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Latuheru menjelaskan media adalah merupakan suatu wadah atau sarana dalam menyampaikan suatu informasi dari pengirim kepada penerima. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.
Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidak jelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu, bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, peserta didik lebih mudah mencerna bahan dari pada tanpa bantuan media.
Peran media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Hamalik menyatakan bahwa media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran disekolah. Dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus memilih media yang tepat agar tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dapat terwujud.
Media dapat membantu guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikannya kepada peserta didik. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap peserta didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks. Pada penelitian ini peneliti menggunakan media multimedia.
Media multimedia
Mutimedia adalah media yang melibatkan berbagai indera dalam sebuah proses pembelajaran. Termasuk dalam media ini adalah segala sesuatu yang memberikan pengalaman secara langsung bisa melalui komputer dan internet, bisa juga melalui pengalaman berbuat dan pengalaman terlibat. Termasuk dalam pengalaman berbuat adalah lingkungan nyata dan karyawisata; sedangkan termasuk dalam pengalaman terlibat adalah permainan dan simulasi, bermain peran dan forum teater.
Manfaat Multimedia Pembelajaran
Multimedia merupakan salah satu bentuk teknologi komputer yang saat ini banyak digunakan dalam bidang pendidikan. Multimedia mencakup bebagai media dalam satu perangkat lunak (software). multimedia sebagai gangunagn antara berbagai media seperti teks, numerk, frafik, gambar, animasi, video, fotografi, suat dan data yang dikendalikan dengan program komputer (dalam satu software digital) serta mempunyai kemampuan interaktif, menjadi salah satu alternatif yang baik sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Elemen-elemen multimedia yang menggabungkan beberapa komponen seperti warna, teks, animasi, gambar/grafik, suara dan video sangat menunjang dalam memenuhi kebutuhan belajar siswa yang memiliki kemampuan kognitif yang berbeda.
Pada dasarnya, pembelajaran diselenggarakan dengan harapan agar siswa mampu menangkap/menerima, memproses, menyimpan, serta mengeluarkan informasi yang telah diolahnya. Gardner (Rahmat, 2008) mengemukakan bahwa kemampuan memproses informasi itu dalam bentuk tujuh kecerdasan, yaitu (1) logis-matematis, (2) spasila, (3) linguistik, (4) kinestetik-keparagaan, (5) musik, (6) interpersonal, dan (7) inrapersonal. Media yang dapat mengakomodir persyaratan-persyaratan tersebut adalah komputer. Komputer mampu menyajikan informasi yang dapat berbentuk video, audio, teks, grafik, dan animasi (simulasi).
Multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinier, dan multidimensional secara interaktif. Visualisasi tersebut akan mempermudah dalam memilih, mensintesa danmengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahami. Multimedia hanya salah satu sarana yang mempermudah proses belajar mengajar tetapi belum tentu sesuai untuk menyajikan semua pokok bahasan dalam proses belajar mengajar. Selain itu perbedaan individual siswa, sesuai dengan kecepatan dan kemampuan belajarnya dapat dibantu dengan layanan program komputer yang disesuaikan dengan bahan ajar yang diperlukan dan komunikasi yang berlangsung antra siswa dan komputer di bawah fasilitator guru diwujudkan dalam bentuk stimulus-resplons.
Selanjutnya pembelajaran berbasis TIK (multimedia) dapat mendukung terjadinya proses belajar yang:
a. Active, yaitu memungkinkan siswa terlibat aktif dikarenakan proses belajar yang menarik dan bermakna;
b. Constructive, yaitu memungkinkan siswa menggabungkan konsep/ide baru ke dalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna yang selama ini ada dalam pikirannya;
c. Collaborative, yaitu memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau masyarakat untuk saling bekerja sama, berbagi ide, saran dan pengalaman;
d. Intentional, yaitu memungkinkan siswa untuk aktif dan antusias berusaha mencapai tujuan yang diinginkannya;
e. Conversational, yaitu memungkinkan siswa untuk melakukan proses sosial dan dialogis di mana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah;
f. Contextualized, yaitu memungkinkan isswa untuk melakukan proses belajar pada situasi yang bermakna (real-world); dan
g. Reflective, memungkinkan siswa untuk dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merengkannya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri.



